Pemuda adalah sosok-sosok baru. Sosok-sosok yang lahir seperti mentari menggantikan yang hitam dengan terang dan pesona cahaya. Ada yang memandangnya seperti tetes-tetes air yang kalau berpadu dengan cahaya akan melahirkan warna-warni pelangi, sebagian lagi memandangnya seperti emas berlian tanda kekayaan dan kejayaan. Lebih dari itu, mereka adalah harta tersimpan yang tersembunyi dalam lautan dalam. Hanya yang tahu dan mau yang mampu menggapainya. Seolah aset yang tak ternilai harganya, mereka digadang-gadang menjadi pemegang hari kemudian, menjadi aktor hebat untuk kemajuan Nusantara di tahun-tahun mendatang.
Kehadiran dan andil pemuda bukan cuma omong kosong belaka. Terbukti dalam jejak sejarah yang telah tertoreh, bukan saja di kancah Internasional kehidupan dunia Nasional pun berhutang cukup banyak. Tengok saja dua peristiwa penting dalam sejarah Nasional Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan RI dan Penumbangan Rezim Soeharto. Peristiwa Rengas Dengklok dengan pemuda sebagai otaknya telah menjadikan Indonesia tegas merdeka. Tumbangnya rezim Soeharto pun demikian halnya, sosok pemuda kembali hadir membebaskan seluruh Bangsa Indonesia dari jeruji egoisme penguasa.
Pemuda adalah agen of change. Semua di tangan kita, permasalahan akan dipecah oleh pemuda dan menjadikan bangsanya hidup dan tumbuh subur. Persepsi ini tidak muncul begitu saja, Pemimpin Besar Revolusi (Bung Karno) pun mendukung penuh dalam salah satu pidatonya. Berikut kutipannya :
“Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya; Berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku guncang dunia!”
Sebegitu pentingkah pemuda di mata Bung Karno?
Angka sepuluh (10) adalah bilangan yang tidak banyak dengan nilai yang relative kecil. Saya yakin Bung Karno tidak mau terlalu bombastis, mencari satu orang pemuda saja sungguh sangat sulit apalagi di tengah permasalahan dunia yang semakin kompleks.
Pertanyaannya, sudahkah pemuda menjadi agen perubahan yang baik atau malah sebaliknya?
Semua percaya bahwa kondisi pemuda zaman sekarang tidaklah lebih baik dari generasi sebelumnya, malah lebih kacau. Akan diuraikan beberapa kondisi yang menjadi keperihatinan berbagai pihak.
Ketidakdisiplinan
Mental masa bodoh
Mental instan
Gangguan emosional
Teknologi canggih
Berkurangnya inovasi
Pemanfaatan produk tak tepat guna
Budaya konsumerisme yang tinggi
Krisis moral beragama
Mewabahnya adegan-adegan kekerasan dan seksual yang bahkan ditiru akan melahirkan tindakan asusila di masa depan.
Pornografi, pornoaksi dan aborsi; menyebabkan hilangnya generasi beriman.
Berkurangnya rasa Nasionalisme (jiwa kebangsaan)
Paparan Sebab :
Kelemahan pemuda sendiri
Ketidakmatangn fisik maupun psikologis
Orang tua
Orang tua telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga dan anak-anaknya
Pendidikan
System pendidikan sekolah yang gagal membangun karakter anak
Pemerintah
Kurang andilnya pemerintah dalam menindaklanjuti masalah ini. Pemerintah terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing (akan uang dan kekuasaan)
Teknologi
Teknologi tanpa filtrasi dan rapuhnya karakter manusia
Beberapa sebab yang telah dipaparkan di atas sebenarnya menyatu dan saling melengkapi. Pihak yang utama dan menjadi sumber permasalahan adalah pemuda itu sendiri. Dalam mencarikan solusinya pun harus benar terpusat pada si pemuda. Pemuda yang baik dan benar mencintai bangsa dan negaranya pasti siap untu tugas mulia ini. Butuh sedikit pencerahan untuk membuka segala yang sebenarnya tersimpan dalam diri pemuda khususnya dan pemuda Indonesia pada umumnya. Dengan berhasil menjadikan pemuda membuka matanya lebar menjadikan negeri ini sukses di tahun-tahun mendatang. Namun dengan sudah cukup puasnya pemuda dengan kemerdekaan yang didapat seperti sekarang ini, Nasionalisme seakan tidak penting. Padahal tanpa kita sadari sekarang ini Indonesia masih dalam masa jajahan namun dengan gaya baru yang lebih terstruktur.
Namun rupanya semua belum cukup sadar dengan status Indonesia Negeri Setengah Jajahan! Jadilah salah satu dari pemuda yang Bung Karno cari!
Solusi :
Khusus untuk pemuda
Perlu adanya partisipasi aktif pemuda misalnya dengan membuka diri seluasnya dalam tujuan mulia Negara
Perlu lebih banyak membaca buku-buku penting, paling tidak buku sejarah guna belajar lebih baik tindakan kepahlawanan
Pemuda harus mulai sadar dari sekarang, berusaha berbenah sebab cita-cita mulia adalah yang harus kita gapai
Pemanfaatan segala suatu secara selektif dan tepat guna
Pemuda harus benar benar cerdas, segala sesuatu harus dipikirkan matang sebelum ditindaklanjut
Sadarilah bahwa anda dilahirkan bukan sebagai pencipta masalah handal, melainkan dilahirkan sebagai pemecah masalah handal dan dibutuhkan banyak orang
Masalah ini adalah masalah bersama, semua pihak dituntut untuk ambil bagian. Dan apabila kondisi ini sudah benar-benar buruk Revolusi Mental adalah juga solusi tepat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar